menu

Selasa, 23 Juni 2015

Museum Ronggowarsito



LAPORAN PENELITIAN LAPANGAN
MUSEUM RONGGOWARSITO

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah :  Islam dan Budaya Jawa
 Dosen Pengampu : M. Rikza Chamami, M.Si




                
Disusun oleh :

Maulida Rani Safitri                    (123411067)



FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI  WALISONGO
SEMARANG
2015

I.                   PENDAHULUAN

Di Indonesia, terdapat banyak museum yang bersejarah. Salah satunya yaitu Museum Ronggowarsito yang terletak di jalan Abdurahman Saleh, Semarang Jawa Tengah. Museum Ronggowarsito merupakan sebuah aset pelayanan dibidang pelestarian budaya.
Museum Ronggowarsito menjadi salah satu wisata sejarah, dengan banyaknya aset yang berada pada museum tersebut menjadikan Museum Ronggowarsito sebagai salah satu wisata edukatif yang cocok untuk dikunjungi oleh para pelajar maupun wisatawan baik skala lokal maupun nasional.
  Di dalam laporan ini, saya akan menulis koleksi apa saja yang terdapat di Museum Ronggowarsito, serta nilai nilai Islam dan budaya Jawa yang terkandung didalamnya.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Apa saja koleksi yang ada di dalam museum Ronggowarsito?
B.     Bagaimana nilai-nilai Islam yang terkandung dalam budaya Jawa tersebut?

III.             PEMBAHASAN

A.    Koleksi Museum Ronggiwarsito
Museum Ronggowarsito memiliki banyak koleksi. Koleksi- koleksi tersebut terbagi menjadi 10 jenis, yaitu geologi, biologika, arkeologi, historika, filologi, numismatic / heraldika, kramologika, teknologika, ethnografika, dan seni rupa.
1.      Koleksi Geologika
Koleksi Geologika Berupa koleksi berbagai jenis batuan diantaranya batu meteorit, batu kuarsa, batu mineral, dan berbagai jenis batuan lainnya, dimana setiap batuan ini memiliki fungsi masing – masing.

2.      Koleksi Biologika
Koleksi Biologika Berupa koleksi fosil diantaranya fosil tumbuhan, fosil binatang dan fosil manusia. Disamping koleksi fosil juga terdapat koleksi peralatan hidup yang digunakan pada masa purba.

3.      Koleksi Arkeologi
Koleksi Arkeologika Berupa koleksi benda – benda peninggalan zaman pra sejarah, ketika pengaruh agama hindu dan budha masuk ke Indonesia.

4.      Koleksi Historika
Koleksi Historika Berupa koleksi zaman perang kemerdekaan, koleksi – koleksi ini memiliki nilai sejarah yang tinggi jika dilihat dari usia koleksi yang sudah bertahun – tahun dan sempat digunakan dalam peristiwa kemerdekaan.

5.      Koleksi  Fologi
Koleksi Filologika Berupa koleksi naskah kuno tulisan tangan asli yang menceritakan suatu peristiwa tertentu.

6.      Numismatic / Heraldika
Koleksi Numismatika / Heraldika berupa koleksi mata uang kuno, tanda pangkat, lambing dari kabupaten dan kota di Jawa Tengah. 

7.      Kramologika
Koleksi Keramologika Berupa benda – benda yang terbuat dari tanah liat yang dibakar yang disebut dengan tembikar, keramik local dan keramik cina.

8.      Teknologika
Koleksi Teknologika Berupa koleksi peralatan tradisional yang digunakan sebelum ditemukannya peralatan modern.

9.      Ethnografika
Koleksi Etnografika Berupa koleksi benda – benda hasil kebudayaan yang menunjukan identitas suku / etnis tertentu.

10.  Seni Rupa
Koleksi Seni Rupa Berupa seni yang mengekspresikan pengalaman artistic manusia melalui objek baik dua dimensi maupun tiga dimensi. 

B.     Nilai-nilai Islam yang Terkandung dalam Budaya Jawa

1.      Al Qur’an
Di Museum Ronggowarsito terdapat Al Qur’an tulisan tangan dari kota Surakarta, Al Qur’an yang bersampul kulit dengan hiasan bercorak Eropa dan berhuruf Arab itu diperkirakan dibuat sekitar awal abad ke 19. Al Qur’an merupakan kitab suci yang bersifat universal, maka sesuai digunakan sepanjang zaman. Al qur’an adalah sesuai dengan perkembangan sains dan teknologi, bahkan teori yang terdapat dalam Al Qur’an Berjawa dibuktikan pada era zaman modern. Sedangkan teori tersebut telah diterangkan dalam Al Qur’an sejak 1400 tahun yang lalu.
20150510_102421.jpg
2.      Mimbar Masjid Ki Ageng Selo
Sebagai wujud dari rasa penghormatan terhadap leluhurnya, Kraton Surakarta telah membangun masjid dan memberi mimbar khotbah di kompleks pemakaman Ki Ageng Selo. Peristiwa tersebut terekam dalam sebuah prasasti bertuliskan Arab pegon sekitar abad ke 17. Lambang kebesaran Kraton Surakarta terukir pula di bagian atas mimbar. Mimbar ini dipakai oleh khotib ketika membacakan khotbah.
20150510_102327.jpg
3.      Maket Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia. Masjid ini memiliki nilai historis yang sangat penting bagi perkembangan Islam di tanah air , tepatnya pada masa kesultanan Demak Bintoro. Banyak masyarakat mempercayai masjid ini sebagai tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam, yang lebih dikenal dengan sebutan Walisongo.
20150510_102122.jpg
4.      Maket Menara Masjid Kudus
Menara ini berada dalam satu kompleks dengan masjid Kudus, tepatnya disamping kanan masjid. Arsiteknya mengatur pada bangunan pura (seperti di Bali). Tinggi menara masjid kudus 18 M. Menara dibangun bersamaan dengan dibangunnya masjid kudus pada abad ke XVI M.
20150510_102109.jpg
5.      Jambangan
Jambangan yang berasal dari lasem rembang berfungsi sebagai wadah air yang digunakan untuk bersuci sebelum memasuki makam tokokh islam Nyi Ageng Maloka. Beliau adalah tokoh penting penyebar agama Islam di Rembang, berdasarkan tipe nisannya yang terdapat di Troloyo, diperkirajkan makam berasal dari abad XV Masehi.
20150510_102655.jpg

Senin, 22 Juni 2015

Laporan Mini Riset

LAPORAN MINI RISET
TRADISI BARITAN DI DESA KALIBALIK 
KECAMATAN BANYUPUTIH KABUPATEN BATANG
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah :  Islam dan Budaya Jawa
Dosen Pengampu : M. Rikza Chamami, M.Si



Disusun oleh :
Maulida Rani Safitri   (123411067)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.                   PENDAHULUAN
Di Indonesia ada baragam kebudayaan,terutama di daerah Jawa. Salah satunya adalah tradisi baritan. Baritan menjadi rutinitas sebagian besar masyarakat setiap tahun pada bulan dan hari yang telah ditentukan. Tradisi ini merupakan ritual yang ditujukan agar masyarakat terhindar dari  Balak dan Bencana, sehingga kehidupan senantiasa aman, tentram dan damai. Upacara ini menciptakan ciri khas kebudayaan masyarakat setempat dan mempunyai daya tarik tertentu yang masyur di masyarakat. Tulisan ini merupakan hasil dari penelitian lapangan tentang tradisi baritan di Desa Kalibalik Kecamatan Banyuputih Kabupaten Batang. Permasalahan yang yang akan dikaji yaitu : a) Apakah  yang dimaksud dengan upacara baritan di Desa Kalibalik?  b) Bagaimanakah bentuk tradisi upacara baritan?

II.                LANDASAN TEORI
Tradisi Baritan merupakan ungkapan ritual yang ditujukan agar masyarakat terhindar dari Balak dan Bencana. Upacara Baritan diselenggarakan setiap tahun sekali pada bulan Sura. Kelengkapan sesaji menjadi syarat penting dalam tradisi Baritan. Sesaji dalam tradisi Baritan terdiri dari: tumpeng dan lauk-pauk. Tradisi Baritan di Desa Kalibalik masih berkembang hingga sekarang, karena tradisi Baritan dipercaya sebagai suatu tradisi yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Desa Kalibalik. Warga masyarakat Batang sendiri selalu melestarikan kebudayaan adat istiadat Jawa yang telah diturunkan oleh nenek moyang.
Upacara Baritan bagi masyarakat Desa Kalibalik harus selalu dilestarikan. Masyarakat percaya apabila tradisi Baritan tidak dilaksanakan, maka akan terjadi hal buruk atau bencana menimpa daerah mereka, sedangkan apabila selalu dilaksanakan kehidupan senantiasa aman, tentram dan damai.
Bentuk tradisi Baritan di Desa Kalibalik diantaranya bergadang bersama dan doa bersama di perempatan jalan agar masyarakat terhindar dari musibah. Alasan peneliti mengadakan penelitian mengenai upacara Baritan di Desa Kalibalik karena upacara Baritan merupakan upacara tradisi yang berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Desa Kalibalik, yang sebagian besar masih percaya pada tradisi nenek moyang.

III.             KONDISI LAPANGAN
A.    Upacara Baritan Di Desa Kalibalik
Baritan merupakan salah satu upacara tahunan yang diadakan oleh masyarakat Batang tepatnya di Desa Kalibalik Khususnya Masyarakat Kejawen.
Dilihat dari arti kata, Baritan merupakan singkatan dari “mbubarake Peri lan Setan” (membubarkan peri dan setan). Sesuai dengan makna kepanjangannya, Baritan memang sebuah ritual yang ditujukan agar masyarakat setempat terhindar dari Balak dan Bencana, sehingga kehidupan senantiasa aman, tentram dan damai.
Upacara Baritan dilakukan setahun sekali setiap 1 Muharram. Upacara Baritan yang di lakukan di Desa Kalibalik ini merupakan tradisi turun temurun dari nenek moyang yang dipercayai sebagai ritual tolak balak atau ritual agar terhindar dari bencana. 
B.     Bentuk Upacara Baritan     
        Bentuk upacara Baritan ini berupa pembuatan nasi tumpeng beserta lauk pauknya, do’a bersama yang dilakukan oleh warga Desa Kalibalik dan begadang bersama sampai pagi, atau biasa disebut lek-lekkan .
Rirual upacara baritan ini di lakukan oleh bapak bapak atau kaum laki laki warga desa Kalibalik, sedang kan tugas para ibu ibu ialah menyiapkan nasi tumpeng beserta lauk pauknya.
            Upacara Baritan dilakukan di perempatan jalan Desa Kalibalik. Maksud dan tujuan diselenggarakannya upacara Baritan adalah memohon kepada Tuhan yang Maha Esa agar masyarakat setempat dijauhkan dari musibah dan marabahaya.
Jalannya Upacara sendiri, yaitu  anggota masyarakat mengirimkan atau mengumpulkan nasi tumpeng. Sedangkan yang tidak membuat tumpeng, mengumpulkan kue-kue atau buah-buahan. Tumpeng, kue-kue, atau buah-buahan tersebut dikumpulkan di suatu perempatan jalan yang telah ditentukan sebagai tempat pelaksanaan upacara Baritan.
Setelah semua anggota masyarakat kumpul, salah seorang sesepuh setempat memimpin tahlilan dan doa yang isinya memohon kepada Allah agar mereka terhindar dari bencana.
Seusai upacara, sesaji berupa nasi tumpeng, kue, dan buah-buahan dihajatkan kepada orang-orang tua yang berhak menerimanya dan kepada anak-anak yang berkerumun di sana, istilahnya bancakan.



IV.             ANALISA LAPANGAN
Menurut Bapak Solikhin (wawancara 29 Mei 2015) desa Kalibalik, Rt 01/04 Kecamatan Banyuputih Kabupaten Batang beliau memaparkan sedikit tentang baritan. Beliau menjelaskan tentang waktu pelaksanaan yang biasa rutin dilaksanakan pada malam 1 Muharram. Beliau menambahi bahwa kegiatan baritan patut dilestarikan dan dilaksanakan rutin. Kegunaan yang mendasar dari kegiatan baritan itu sendiri adalah berdoa agar diberi keselamatan dan bertambah berkah dari Allah SWT. Akan tetapi, juga sebagai perekat kebersamaan sesama warga desa mulai dari anak-anak, dewasa, dan lanjut usia. Mereka guyub dan rukun mempersiapkan dengan gembira dan berlomba-lomba mencari pahala untuk menyambut acara baritan tersebut.
Berbeda halnya dengan masyarakat Kecamatan Gringsing Kabupaten Batang tata cara baritan. Masyarakat disana biasa melakukan baritan kurun waktu sebulan sekali, lebih tepatnya saat malam jum’at kliwon. Tujuannya sama yakni berdoa untuk keselamatan dan mencari keberkahan. Namun, tradisi lek-lekan agak dikurangi, karena efisien untuk istirahat terlebih dulu guna besok melanjutkan aktivitas kerja masing-masing individu secara maksimal.
Dalam hal ini, baritan masih dilestarikan sebagai budaya leluhur yang memberi sugesti positif  kepada masyarakat daerah tersebut agar terciptanya keamanan dan kerukunan sesama warga. Meskipun terdapat sedikit perbedaan dalam tata cara pelaksanaannya, tradisi baritan yang masih dilakukan, menunjukkan kesadaran masyarakat akan pelestarian tradisi leluhur turun-temurun di daerah tersebut.


V.                KESIMPULAN
Upacara Baritan yang dilakukan oleh warga Desa Kalibalik merupakan sebuah ritual tolak balak atau  agar terhindar dari bencana. Upacara Baritan dilakuka setiap 1 Muharram atau lebih tepatnya malam 1 suro. Ritual ini dilakukan di perempatan jalan yang telah ditentukan oleh warga, setelah warga semua berkumpul, dilakukan tahlil dan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh warga setempat. Seusai upacara, sesaji berupa nasi tumpeng, kue, dan buah-buahan dihajatkan kepada orang-orang tua yang berhak menerimanya dan kepada anak-anak yang berkerumun di sana, istilahnya bancakan.
Warga Desa Kalibalik percaya, bahwa dengan melakukan ritual upacara baritan, kehidupan senantiasa aman, tentram dan damai. Apabila tradisi Baritan tidak dilaksanakan, maka akan terjadi hal buruk atau bencana menimpa daerah mereka.











BIODATA

Nama                                       : Maulida Rani Safitri
NIM                                        : 123411067
Jurusan/Prodi                          : Pendidikan Bahasa Inggris
Tempat, Tanggal Lahir            : Batang, 07 November 1994
Riwayat Pendidikan               : SD Kalibalik 02, Batang
                                                  MTs Nurul Huda Banyuputih, Batang
                                                  MA NU 01 Banyuputih, Batang
                                                  S1 UIN Walisongo, Semarang
Alamat                                    : Kalibalik, 01/04, Kec. Banyuputih, Kab. Batang
Phone number                         : 085 641 479 047
E-mail                                      : ra_ni79@yahoo.co.id
Facebook                                 : Maulida Rani Safitri
Twitter                                     : @rany_maulida

Review Wayang

Review Begawan Cipta Wening

Ada seorang raja yang bernama Niwatakawaca yang tingggal di Ima-imantaka. Sang raja hendak menikahi Dewi Supraba, ia adalah bidadari di Suralaya. Tapi permintaan itu ditolak Hyang Indra, atas penolakan inilah Prabu Niwatakawaca murka dan hendak merusak Kaendran (tempat Betara sang Hyang Indra ) bersamaan dengan ini, Raden Arjuna sedang bertapa di bukit Indrakila yang saat itu bergelar Begawan Mintaraga. Sebenarnya, Hyang Indra khawatir Arjuna yang sedang bertapa, karena Hyang Indra akan meminta bantuan Arjuna untuk melawan Prabu Niwatakawaca. Betara Indra menitipkan para bidadari penggoda agar Arjuna batal bertapa, namun mereka tidak bisa membatalkan tapa arjuna, malah sebaliknya bidadari itu merindukan Arjuna.
Bersamaan dengan Prabu Niwatakawaca ke pertapaan, datang pula raksasa sakti bernama Mamangmurka, ia datang hendak membinasakan Arjuna. Hal ini diketahui oleh Arjuna, seketika Arjuna menyumpahinya degan berkata “tingkah laku raksasa ini sebagai seekor babi hutan”. Seketika Mamang Murka berubah wujud menjadi babi hutan, diikuti oleh Hyang Indra berubah menjadi seorang pendeta bernama Resi Padya yang berkeinginan untuk membunuh babi hutan itu, ia melepaskan anak panah diikuti pula dengan Arjuna dan mengenai tepat di binatang itu.
Masing-masing mengakui bahwa anak panah yang mengenai binatang tersebut adalah anak panahnya.  Dalam selisih paham itu, sebenarnya Hyang Indra senang karena Hyang Indra dapat dengan mudah meminta bantuan Arjuna untuk memusnahkan Prabu Niwatakawaca. Kehendak ini benar terlaksana, Prabu Niwatakawaca berhasil dikalahkan Arjuna.

 Arjuna diangkat menjadi raja di Kaendran. Arjuna bergelar Prabu Kariti. Menurut perhitungan dewa, sehari di alam manusia sama dengan sebulan di Kaendran.  

Makalah Kebudayaan Pra Islam

MAKALAH
KEBUDAYAAN JAWA PRA ISLAM

Dipresentasikan dalam Mata Kuliah
Islam dan Kebudayaan Jawa
yang diampu oleh: M. Rikza Chamami, MSI




Fitri Meiyenny                                   123411064
Maulida Rani Safitri                         123411067
Kholifatul Mustaqiyah                     123411058
Kusumah Esti Fauziah                     123411119


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
TAHUN 2015


I.               PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk berbudaya. Eksistensi manusia didunia ditandai dengan upaya tiada henti-hentinya untuk menjadi manusia, upaya ini berlangsung dalam dunia ciptaannya sendiri yakni kbudayaan. Kebudayaan menempati posisi sentral dalam seluruh tatanan hidup manusia. Seluruh bangunan hidup manusia dan masyarakat berdiri diatas landasan kebudayaan.
Meskipun dalam perkembangannya kehidupan orang jawa telah mengalami pergeseran budaya,  sejak zama prasejarah, Hindu/ Budha, Islam, kolonialisme, tetapi hingga sekarang peradaban yang bercorak jawa masih mengental dikalangan orang Jawa. Dalam arti, meskipun kebudayaan Jawa bercampur dengan agama lain (Hindu, Budha, Islam, dan sebagainya), tetapi roh, figur, dan kenyataankebudayaan Jawa masih terlihat jelas.

II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana masa pra sejarah Jawa?
B.     Bagaimana kepercayaan animisme jawa?
C.     Bagaimana kepercayaan dinamisme jawa?



III.         PEMBAHASAN
A.    Masa Pra Sejarah Jawa
Kiranya kurang lebih tiga ribu tahun sebelum Masehi gelombang pertama imigran Melayu yang berasa dari Cina selatan mulai membnajiri Asia Tenggara, disusul oleh beberapa gelombang lagi selama dua tahun berikut. Orang Jawa dianggap keturunan dari orang-orang Melayu gelombang berikut itu. Orang Melayu itu hidup dari pertanian, mereka sudah mengenal persawahan. Dengan demikian bentuk organisasi desa mereka sudah relatif tinggi.
Diperkirakan bahwa sebelum kedatangan agama Hindu, pemimpin-pemimpin lokal di Jawa telah menciptakan lembaga – lembaga politik pertama diatas tingkat desa, juga karena keperluan pengaturan pengairan sentral.[1]
Masyarakat jawa atau suku bangsa jawa secara kultural adalah orang-orang yang hidup kesehariannya menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai dialeknya secara turun temurun. Masyarakat Jawa adalah mreka yang bertempat tinggal di pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur atau mereka yang berasal dari kedua daerah tersebut.
Secara geografis, suku bangsa jawa mendiami tanah jawa yang meliputi wilayah Banyumas, Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Madiun Kediri, dan Malang. Sedangkan diluar wilayah tersebut dinamakan pesisir dan ujung timur. Surakarta dan Yogyakarta yang merupakan bekas kerajaan Mataram abad ke 16 adalah pusat dari kebudayaan jawa. [2]
Nenek moyang suku bangsa jawa tidak berbeda dari suku-suku bangsa Indonesia lainnya yang menempati semenanjung Malaka, Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Ciri menonjol dari struktur masyarakat Jawa adalah didasarkan pada aturan-aturan hukum adat serta religinya, yaitu animisme dan dinamisme yang merupakan inti kebudayaan dan mewarnai seluruh aktifitas kehidupan masyarakat. Hukum adat sebagai norma yang mengikat kehidupan mereka begitu kuat sehingga masyarakat bersifat statis dan konservatif.
Selain ciri diatas masyarakat Jawa juga memiliki ciri lain, yakni kuatnya ikatan solidaritas sosial dan hubungan pertalian darah. Dalam masyarakat Jawa, pendewaan dan permitosan terhadap ruh nenek moyang melahirkan penyembahan ruh nenek moyang yang pada akhirnya melahirkan hukum adat dan relasi-relasi pendukungnya. Dengan upacara-upacara selatan, ruh nenek moyang menjadi sebentuk dewa pelindung bagi keluarga yang masih hidup. Selain itu seni pewayangan dan gamelan dijadikan sebagai sarana upacara ritual keagamaan untuk mendatangkan roh nenek moyang. Dalam tradisi ritual ini, fumgsi roh nenek moyang ini dianggap sebagai “pengamong dan pelindung” keluarga yang masih hidup.
Dalam lakon wayang, ruh nenek moyang dipersembahkan dalam bentuk punokawan. Agama asli mereka adalah apa yang antropolog disebut sebagai religion magic.[3] Dan merupakan sistem budaya yang mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa. Keberadaan ruh dan kekuatan gaibdipandang sebagai Tuhan yang dapat menolong ataupun sebaliknya dapat mencelakakan.
Di daerah jawa telah ada agama-agama atau kepercayaan asli, seperti Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, Banten; Sunda Wiwitan aliran Madrais, juga dikenal sebagai agama Cigugur (dan ada beberapa penamaan lain) di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat; agama Buhun di Jawa Barat; Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur, agama-agama asli jawa tersebut didegradasi sebagai ajaran animisme, penyembah berhala / batu atau hanya sebagai aliran kepercayaan. Oleh karena itu, W Roberston Smith menyatakan bahwa upacara religi yang biasa dilakukan masyarakat pada waktu itu berfungsi sebagai motivasi yang dimaksudkan tidak hanya untuk berbakti kepada dewa ataupun untuk mencari kepuasan batiniyah yang bersifat individual saja, tetapi juga karena mereka menganggap melaksanakan upacara agama adalah bagian dari kewajiban sosial. [4]
Dalam kehidupan orang Jawa, hidup ini penuh dengan upacara. Baik upacara yang berkaitan dengan lingkaran hidup manusia sejak lahir sampai mati, ataupun upacara yang berkaitan dengan seputar lingkungan hidup manusia. Upacara – upacara tersebut biasa disebut dengan selametan atau wilujengan. Selametan ini merupakan unsur Jawa sebelum Islam masuk ke tanah Jawa. Ketika Islam datang unsur pra-Islam yang berupa kepercayaan animisme, dinamisme dan pengaruh Hindu-Budha sudah mengakar kuat dalam masyarakat Jawa, sehingga sulit untuk menghilangkannya.

B.     Kepercayaan Animisme Jawa
1.         Pengertian animisme
Animisme adalah pemahaman yang menyatakan bahwa setiap gerakan, kekuatan dan kejadian di alam ini disebabkan oleh makhluk-makhluk yang ada di sekitarnya.Keyakinan animisme dalam masyarakat  terbagi dalam dua macam yaitu fetitisme dan spiritisme. Fetitisme adalah pemujaan kepada benda-benda berwujud yang tampak memiliki jiwa atau roh, sedangkan spiritisme adalah pemujaan terhadap roh-roh leluhur dan makhluk ghoib lainnya yang ada di alam ini.[5]
Ada juga yang mengatakan animisme adalah suatu kepercayaan tentang adanya roh pada benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan bahkan pada manusia itu sendiri. Mereka menganggap roh-roh itu mempunyai kekuatan yang melebihi kekuatan manusia, sehingga mereka menyembahnya dengan cara melakukan upacara yang disertai dengan penyajian sesaji. Pertama, pelaksanaan upacara dilaksanakan masyarakat jawa adalah agar keluarganya terhindar dari roh yang jahat. Arwah nenek moyang dianggap lebih sakti dan banyak pengalaman, sehingga mereka beranggapan perlu dimintai petunjuk dan berkah. Sebagai kelengkapan upacara mereka menyiapkan sesaji serta membakar kemenyan atau bau-bauan lainnya. Kedua, pemberian sesaji atau sesajen yang ditujukan kepada mbahe, danyang yang berdiam di pohon-pohon besar atau di sendang-sendang, di kuburan tua dari tokoh-tokoh terkenal pada masa lampau atau tempat tersebut merupakan tempat yang dianggap angker. Agar dapat menarik roh-roh tersebut mereka memasang sesaji berupa makanan dan bunga. Semua itu dilakukan hanya memohon perlindungan dari yang mbahureksa supaya terhindar dari makhluk halus yang jahat.[6]
2.         Praktik kegiatan animisme
Dalam teori animisme pertama di kemukakn oleh seorang antropologi “Edward Burnat” (1832- 1917) di dalam bukunya primitive Culture. Disebutkan bahwa paham manusia primitif yakni, roh manusia yang telah mati akan pindah ke tubuh binatang, pohon besar, batu besar, serta akan hidup di gunung dan sebagainya. Namun para penganut animisme ini adalah manusia yang tersesat yang menemukan jalan yang semestinya. Allah SWT  bukanlah roh sebagaimana anggapan mereka, tetapi Allah adalah pencipta semua benda- benda, tumbuhan, binatang, serta seisi dunia ini.[7]
Keyakinan semacam itu terus terpelihara dalam tradisi dan budaya masyarakat Jawa, bahkan hingga saat ini masih dapat  disaksikan berbagai ritual yang jelas merupakan peninggalan zaman tersebut. Keyakinan yang demikian dalam kepustakaan budaya disebut dengan “kejawen”, yaitu keyakinan atau ritual campuran antara agama formal dan keyakinan yang mengakar kuat di kalangan masyarakat jawa. Sebagai contohnya, banyak orang yang menganut agama Islam, tapi dalam prakteknya keberagamaannya tidak meninggalkan keyakinan warisan nenek moyang mereka. Hal itu bisa saja karena pengetahuan mereka yang dangkal terhadap Islam.[8]
3.         Ayat- ayat al-qur’an tentang teori animisme
Allah berfiman dalam Qs. Al-an’am :60
“Tuhan telah mematikan (memenidurkan) engkau di waktu malam, dan Dia mengetahui apa yang engkau perbuat pada siang hari. Kemudian Dia membangkitkan engkau pada hari kiamat , agar men jalani masa yang telah di tentukan kemudian kepada Allah-lah kami kembali, lalu dia memberitahukan kepada apa yang dahulu kamu kerjakan.”

Jika teori animisme di masukkan dalam terminologi agama dengan pengertian objectif, yaitu agama dalam segala apa yang di percayai, maka mempercayai segala nyawa berarti mempecayai segala Tuhan. Jadi kalau demikian artinya, maka animisme berarti mempunyai tuhan banyak.

4.      Kepercayaan Dinamisme Jawa
1.         Pengertian Dinamisme
Perkataan dinamisme berasal dari kata yang terdapat dalam bahasa Yunani, yaitu, dunamos dan diinggriskan menjadi dynamic yang umumnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kekuatan, kekuasaan atau khasiat dan dapat juga diterjemahkan dengan daya.
Selanjutnya dinamisme ada yang mengartikan dengan sejenis paham dan perasaan keagamaan yang terdapat diberbagai bagian dunia, paada berjenis-jenis bangsa dan menunjukkan banyaknya persamaan-persamaan. Demikian Honig mengartikannya. Dr. Harun Hasution tidak mendefinisikan dinamisme secara tegas hanya menerangkan bahwa bagi manusia primitif, yang tingkat kebudayaannya masih rendah sekali, tiap-tiap benda yang berada di sekelilingnya bisa mempunyai kekuatan batin yang misterius.
Dalam ensiklopedi umu dijumpai definisi dinamisme sebagai kepercayaan keagamaan primitif pada zaman sebelum kedatangan agaman Hindu di Indonesia. Dinamisme disebut juga preanismisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai kekuatan (percaya adanya kekuatan yang maha yang berada dimana-mana).
2.         Kegiatan Dinamisme
Dalam kepercayaan dinamisme, masyarakat jawa mempercayai bahwa apa yang telah mereka bangun adalah hasil dari adaptasi pergulatan dengan alam kekuatan alam disadari merupakan penentuan dari kehidupan sebelumnya keberhasilan pertanian tergantung dari kekuatan alam matahari, hujan, angin, dan hama, tetapi mereka masih mempercayai kekuatan adikodrati dibalik semua kekuatan itu. Selanjutnya sebagai peninggalan sisa masa lalu adalah melakukan tindakan keagamaan dengan berusaha untuk menambah kekuatan batin agar dapat mempengaruhi kekuatan alam semesta atau jagat gede.[9]
Usaha yang paling berat adalah melakukan pati geni. Yaitu tindakan tidak makan, tidak minum dan tidak melihat sinar apapun selama empat puluh hari empat puluh malam. Untuk menambah kekuatan batin tersebut menggunakan benda-benda bertuah atau berkekuatan gaib yang di sebut jimat, yakni berupa keris, tombak, songsong jerne, batu akik, akar bahar, dan kuku macan. Tindakan keagamaan tersebut adalah sisa-sisa kepercayaan zaman dinamisme.[10]
Budaya jawa sudah ada sejak zaman prasejarah, sejak masyarakat jawa itu sendiri ada, dengan budaya yang bertumpu pada religi animisme-dinamisme. Dasar pemikiran religi animisme-dinamisme yaitu adanya kepercayaan tentang kekuatan atau energi yang mendiami benda-benda (keramat) dan adanya roh-roh halus (termasuk arwah para leluhur) yang menempati alam sekeliling mereka.[11]

IV.         PENUTUP
A.      Kesimpulan
Masyarakat jawa adalah orang-orang yang hidup kesehariannya menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai dialeknya secara turun temurun. Masyarakat Jawa adalah mereka yang bertempat tinggal di pulau Jawa.
Animisme adalah pemahaman yang menyatakan bahwa setiap gerakan, kekuatan dan kejadian di alam ini disebabkan oleh makhluk-makhluk yang ada di sekitarnya.
Perkataan dinamisme berasal dari kata yang terdapat dalam bahasa Yunani, yaitu, dunamos dan diinggriskan menjadi dynamic yang umumnya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kekuatan, kekuasaan atau khasiat dan dapat juga diterjemahkan dengan daya. Dinamisme disebut juga preanismisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai kekuatan.

B.       Saran
Demikianlah makalah yang telah penulis susun, semoga bermanfaat, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan agar makalah penulis yang kedepannya bisa lebih baik. Dan penulis memohon maaf apabila terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini.










DAFTAR PUSTAKA
Amin, Darori, Islam & Kebudayaan Jawa, Semarang: Gama Media, 2000
Jamil, Abdul dkk, Islam Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Gama Media,
Khalil,Ahmad, Islam Jawa Sufisme Etika dan Tradisi Jawa, Malang: Sukses offset, 2008
Khalim, Samidi, M.Ag, Islam dan Spiritualitas Jawa, Semarang: RaSAIL Media Group, 2008
Shodiq, Potret Islam Jawa, Semarang: Pustaka Zaman, 2013
Suseno, Frans Magnis, Etika J awa, Jakarta : PT Gramedia Pustaka, 2003
Sutiyono, Poros Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013
BIODATA SINGKAT PEMAKALAH

1.      Pemakalah 1
Nama                                : Fitri Meiyenny
NIM                                 : 123411043
Jurusan/Prodi                   : Pendidikan Bahasa Inggris
Tempat, Tanggal Lahir     : Jakarta, 06 Mei 1992
Riwayat Pendidikan        : SD Negeri Pondok Kelapa 05 Pagi (2005)
           SMP Islam Terpadu At-Tawaazun (2008)
 PMDG Putri 3 (2011)
Alamat                             : Jl. Nuri No.56 Rt 04 Rw 04, Widuri - Pemalang
Nomor telepon/Hp           : 085786643774
Email                                : galaxymeyfan@gmail.com

2.      Pemakalah 2
Nama                                : Kholifatul Mustaqiyah
NIM                                 : 123411058
Jurusan/Prodi                   : Pendidikan Bahasa Inggris
Tempat, Tanggal Lahir     : Pekalongan, 24 Oktober 1994
Riwayat Pendidikan        : TK Aisyah Pangkah, Pekalongan
 SD Muhammadiyah, Pekalongan
 MTs Tholabuddin, Batang
 MA Darul Amanah, Kendal
Alamat                             : Pangkah, 09/04, Kec. Karangdadap, Kab. Pekalongan
Phone number                  : 085 875 416 660
e-mail                               : oliph123@gmail.com
facebook                          : Kholifatul Mustaqiyah

3.      Pemakalah 3
Nama                                : Maulida Rani Safitri
NIM                                 : 123411067
Jurusan/Prodi                   : Pendidikan Bahasa Inggris
Tempat, Tanggal Lahir     : Batang, 07 November 1994
Riwayat Pendidikan        : SD Kalibalik 02, Batang
 MTs Nurul Huda Banyuputih, Batang
 MA NU 01 Banyuputih, Batang
Alamat                             : Kalibalik, 01/04, Kec. Banyuputih, Kab. Batang
Phone number                  : 085 641 479 047
e-mail                               : ra_ni79@yahoo.co.id
facebook                          : Maulida Rani Safitri
Twitter                             : @rany_maulida

4.      Pemakalah 4
Nama                                : Kusumah Esti Fauziah
NIM                                 : 123411119
Jurusan/Prodi                   : Pendidikan Bahasa Inggris
Tempat, Tanggal Lahir     : Kudus, 09 Juni 1994
Riwayat Pendidikan        : RA NU Miftahul Ma’arif Kaliwungu Kudus
  MI NU Miftahul Ma’arif Kaliwungu Kudus
                                           MTs N 1 Kudus
                                           SMK N 1 Kudus
Alamat                             : Kaliwungu Rt.06 Rw.01 Kec. Kaliwungu Kab. Kudus
Nomor telepon/Hp           : 089688064044
Email                                : qsumaes@gmail.com
Facebook                          : Kusumah Esti Fauziah (Sumaestifau)
Twitter                             : @EstiKef




[1] Frans Magnis Suseno, Etika Jawa, Jakarta : PT Gramedia Pustaka, 2003, hlm. 22.
[2] Sutiyono, Poros Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013, hlm. 1.
[3] Shodiq, Potret Islam Jawa, Semarang: Pustaka Zaman, 2013, hlm. 6.
[4] Shodiq, Potret Islam Jawa, Semarang: Pustaka Zaman, 2013, hlm. 7
[5]Samidi Khalim, Islam dan Spiritualitas Jawa, Semarang: Rasail Media Group, 2008, hlm. 45
[6].Darori Amin, Islam & Kebudayaan Jawa, Semarang: Gama Media, 2000, hlm. 5.
[7] Shodiq, Potret Islam Jawa, Semarang: Pustaka Zaman, 2013, hlm 8.
[8]Shodiq, Potret Islam Jawa, Semarang: Pustaka Zaman, 2013, hlm 11-12.
[9] Drs. H. Shodiq, M.Ag, Potret Islam Jawa, Semarang: Pustaka Zaman, 2013, hlm. 13-14
[10] Abdul Jamil dkk, Islam Kebudayaan Jawa, Yogyakarta: Gama Media, -, hlm. 9-10
[11] Samidi Khalim, M.Ag, Islam dan Spiritualitas Jawa, Semarang: RaSAIL Media Group, 2008, hlm.45