MAKALAH
KEBUDAYAAN
JAWA PRA ISLAM
Dipresentasikan dalam Mata Kuliah
Islam dan Kebudayaan Jawa
yang diampu oleh: M. Rikza Chamami, MSI
Fitri Meiyenny 123411064
Maulida Rani
Safitri 123411067
Kholifatul
Mustaqiyah 123411058
Kusumah Esti
Fauziah 123411119
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
TAHUN 2015
I.
PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk
berbudaya. Eksistensi manusia didunia ditandai dengan upaya tiada
henti-hentinya untuk menjadi manusia, upaya ini berlangsung dalam dunia
ciptaannya sendiri yakni kbudayaan. Kebudayaan menempati posisi sentral dalam
seluruh tatanan hidup manusia. Seluruh bangunan hidup manusia dan masyarakat
berdiri diatas landasan kebudayaan.
Meskipun dalam
perkembangannya kehidupan orang jawa telah mengalami pergeseran budaya, sejak zama prasejarah, Hindu/ Budha, Islam,
kolonialisme, tetapi hingga sekarang peradaban yang bercorak jawa masih
mengental dikalangan orang Jawa. Dalam arti, meskipun kebudayaan Jawa bercampur
dengan agama lain (Hindu, Budha, Islam, dan sebagainya), tetapi roh, figur, dan
kenyataankebudayaan Jawa masih terlihat jelas.
II.
RUMUSAN MASALAH
A. Bagaimana
masa pra sejarah Jawa?
B. Bagaimana
kepercayaan animisme jawa?
C. Bagaimana
kepercayaan dinamisme jawa?
III.
PEMBAHASAN
A. Masa
Pra Sejarah Jawa
Kiranya kurang lebih
tiga ribu tahun sebelum Masehi gelombang pertama imigran Melayu yang berasa
dari Cina selatan mulai membnajiri Asia Tenggara, disusul oleh beberapa
gelombang lagi selama dua tahun berikut. Orang Jawa dianggap keturunan dari
orang-orang Melayu gelombang berikut itu. Orang Melayu itu hidup dari
pertanian, mereka sudah mengenal persawahan. Dengan demikian bentuk organisasi
desa mereka sudah relatif tinggi.
Diperkirakan bahwa
sebelum kedatangan agama Hindu, pemimpin-pemimpin lokal di Jawa telah
menciptakan lembaga – lembaga politik pertama diatas tingkat desa, juga karena
keperluan pengaturan pengairan sentral.
Masyarakat jawa atau
suku bangsa jawa secara kultural adalah orang-orang yang hidup kesehariannya menggunakan
bahasa Jawa dengan berbagai dialeknya secara turun temurun. Masyarakat Jawa
adalah mreka yang bertempat tinggal di pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah dan
Jawa Timur atau mereka yang berasal dari kedua daerah tersebut.
Secara geografis, suku
bangsa jawa mendiami tanah jawa yang meliputi wilayah Banyumas, Kedu,
Yogyakarta, Surakarta, Madiun Kediri, dan Malang. Sedangkan diluar wilayah
tersebut dinamakan pesisir dan ujung timur. Surakarta dan Yogyakarta yang
merupakan bekas kerajaan Mataram abad ke 16 adalah pusat dari kebudayaan jawa.
Nenek
moyang suku bangsa jawa tidak berbeda dari suku-suku bangsa Indonesia lainnya
yang menempati semenanjung Malaka, Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Ciri
menonjol dari struktur masyarakat Jawa adalah didasarkan pada aturan-aturan
hukum adat serta religinya, yaitu animisme dan dinamisme yang merupakan inti
kebudayaan dan mewarnai seluruh aktifitas kehidupan masyarakat. Hukum adat
sebagai norma yang mengikat kehidupan mereka begitu kuat sehingga masyarakat
bersifat statis dan konservatif.
Selain ciri diatas
masyarakat Jawa juga memiliki ciri lain, yakni kuatnya ikatan solidaritas
sosial dan hubungan pertalian darah. Dalam masyarakat Jawa, pendewaan dan
permitosan terhadap ruh nenek moyang melahirkan penyembahan ruh nenek moyang
yang pada akhirnya melahirkan hukum adat dan relasi-relasi pendukungnya. Dengan
upacara-upacara selatan, ruh nenek moyang menjadi sebentuk dewa pelindung bagi
keluarga yang masih hidup. Selain itu seni pewayangan dan gamelan dijadikan
sebagai sarana upacara ritual keagamaan untuk mendatangkan roh nenek moyang. Dalam
tradisi ritual ini, fumgsi roh nenek moyang ini dianggap sebagai “pengamong dan
pelindung” keluarga yang masih hidup.
Dalam lakon wayang, ruh
nenek moyang dipersembahkan dalam bentuk punokawan. Agama asli mereka adalah
apa yang antropolog disebut sebagai religion magic.
Dan merupakan sistem budaya yang mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia,
khususnya masyarakat Jawa. Keberadaan ruh dan kekuatan gaibdipandang sebagai
Tuhan yang dapat menolong ataupun sebaliknya dapat mencelakakan.
Di daerah jawa telah
ada agama-agama atau kepercayaan asli, seperti Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh
masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, Banten; Sunda Wiwitan aliran Madrais, juga
dikenal sebagai agama Cigugur (dan ada beberapa penamaan lain) di Cigugur,
Kuningan, Jawa Barat; agama Buhun di Jawa Barat; Kejawen di Jawa Tengah dan
Jawa Timur, agama-agama asli jawa tersebut didegradasi sebagai ajaran animisme,
penyembah berhala / batu atau hanya sebagai aliran kepercayaan. Oleh karena
itu, W Roberston Smith menyatakan bahwa upacara religi yang biasa dilakukan
masyarakat pada waktu itu berfungsi sebagai motivasi yang dimaksudkan tidak
hanya untuk berbakti kepada dewa ataupun untuk mencari kepuasan batiniyah yang
bersifat individual saja, tetapi juga karena mereka menganggap melaksanakan
upacara agama adalah bagian dari kewajiban sosial.
Dalam kehidupan orang
Jawa, hidup ini penuh dengan upacara. Baik upacara yang berkaitan dengan
lingkaran hidup manusia sejak lahir sampai mati, ataupun upacara yang berkaitan
dengan seputar lingkungan hidup manusia. Upacara – upacara tersebut biasa
disebut dengan selametan atau wilujengan. Selametan ini merupakan unsur Jawa
sebelum Islam masuk ke tanah Jawa. Ketika Islam datang unsur pra-Islam yang
berupa kepercayaan animisme, dinamisme dan pengaruh Hindu-Budha sudah mengakar
kuat dalam masyarakat Jawa, sehingga sulit untuk menghilangkannya.
B. Kepercayaan
Animisme Jawa
1.
Pengertian animisme
Animisme adalah pemahaman yang menyatakan bahwa setiap gerakan, kekuatan
dan kejadian di alam ini disebabkan oleh makhluk-makhluk yang ada di
sekitarnya.Keyakinan animisme dalam masyarakat
terbagi dalam dua macam yaitu fetitisme dan spiritisme. Fetitisme adalah
pemujaan kepada benda-benda berwujud yang tampak memiliki jiwa atau roh,
sedangkan spiritisme adalah pemujaan terhadap roh-roh leluhur dan makhluk ghoib
lainnya yang ada di alam ini.
Ada juga yang
mengatakan animisme adalah suatu kepercayaan tentang adanya roh pada
benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan bahkan pada manusia itu sendiri. Mereka
menganggap roh-roh itu mempunyai kekuatan yang melebihi kekuatan manusia,
sehingga mereka menyembahnya dengan cara melakukan upacara yang disertai dengan
penyajian sesaji. Pertama, pelaksanaan upacara dilaksanakan masyarakat
jawa adalah agar keluarganya terhindar dari roh yang jahat. Arwah nenek moyang
dianggap lebih sakti dan banyak pengalaman, sehingga mereka beranggapan perlu
dimintai petunjuk dan berkah. Sebagai kelengkapan upacara mereka menyiapkan sesaji
serta membakar kemenyan atau bau-bauan lainnya. Kedua, pemberian sesaji
atau sesajen yang ditujukan kepada mbahe, danyang yang berdiam di pohon-pohon
besar atau di sendang-sendang, di kuburan tua dari tokoh-tokoh terkenal pada
masa lampau atau tempat tersebut merupakan tempat yang dianggap angker. Agar
dapat menarik roh-roh tersebut mereka memasang sesaji berupa makanan dan bunga.
Semua itu dilakukan hanya memohon perlindungan dari yang mbahureksa supaya
terhindar dari makhluk halus yang jahat.
2.
Praktik kegiatan
animisme
Dalam teori animisme
pertama di kemukakn oleh seorang antropologi “Edward Burnat” (1832- 1917) di
dalam bukunya primitive Culture. Disebutkan bahwa paham manusia primitif
yakni, roh manusia yang telah mati akan pindah ke tubuh binatang, pohon besar,
batu besar, serta akan hidup di gunung dan sebagainya. Namun para penganut
animisme ini adalah manusia yang tersesat yang menemukan jalan yang semestinya.
Allah SWT bukanlah roh sebagaimana
anggapan mereka, tetapi Allah adalah pencipta semua benda- benda, tumbuhan,
binatang, serta seisi dunia ini.
Keyakinan semacam itu
terus terpelihara dalam tradisi dan budaya masyarakat Jawa, bahkan hingga saat
ini masih dapat disaksikan berbagai ritual yang jelas merupakan
peninggalan zaman tersebut. Keyakinan yang demikian dalam kepustakaan budaya
disebut dengan “kejawen”, yaitu keyakinan atau ritual campuran antara agama
formal dan keyakinan yang mengakar kuat di kalangan masyarakat jawa. Sebagai
contohnya, banyak orang yang menganut agama Islam, tapi dalam prakteknya
keberagamaannya tidak meninggalkan keyakinan warisan nenek moyang mereka. Hal
itu bisa saja karena pengetahuan mereka yang dangkal terhadap Islam.
3.
Ayat- ayat al-qur’an
tentang teori animisme
Allah berfiman dalam Qs.
Al-an’am :60
“Tuhan
telah mematikan (memenidurkan) engkau di waktu malam, dan Dia mengetahui apa
yang engkau perbuat pada siang hari. Kemudian Dia membangkitkan engkau pada
hari kiamat , agar men jalani masa yang telah di tentukan kemudian kepada
Allah-lah kami kembali, lalu dia memberitahukan kepada apa yang dahulu kamu
kerjakan.”
Jika teori animisme di
masukkan dalam terminologi agama dengan pengertian objectif, yaitu agama dalam
segala apa yang di percayai, maka mempercayai segala nyawa berarti mempecayai
segala Tuhan. Jadi kalau demikian artinya, maka animisme berarti mempunyai
tuhan banyak.
4. Kepercayaan Dinamisme Jawa
1.
Pengertian Dinamisme
Perkataan dinamisme
berasal dari kata yang terdapat dalam bahasa Yunani, yaitu, dunamos dan
diinggriskan menjadi dynamic yang umumnya diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia dengan kekuatan, kekuasaan atau khasiat dan dapat juga diterjemahkan
dengan daya.
Selanjutnya dinamisme
ada yang mengartikan dengan sejenis paham dan perasaan keagamaan yang terdapat
diberbagai bagian dunia, paada berjenis-jenis bangsa dan menunjukkan banyaknya
persamaan-persamaan. Demikian Honig mengartikannya. Dr. Harun Hasution tidak
mendefinisikan dinamisme secara tegas hanya menerangkan bahwa bagi manusia
primitif, yang tingkat kebudayaannya masih rendah sekali, tiap-tiap benda yang
berada di sekelilingnya bisa mempunyai kekuatan batin yang misterius.
Dalam ensiklopedi umu
dijumpai definisi dinamisme sebagai kepercayaan keagamaan primitif pada zaman
sebelum kedatangan agaman Hindu di Indonesia. Dinamisme disebut juga
preanismisme, yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai
kekuatan (percaya adanya kekuatan yang maha yang berada dimana-mana).
2.
Kegiatan Dinamisme
Dalam kepercayaan
dinamisme, masyarakat jawa mempercayai bahwa apa yang telah mereka bangun
adalah hasil dari adaptasi pergulatan dengan alam kekuatan alam disadari
merupakan penentuan dari kehidupan sebelumnya keberhasilan pertanian tergantung
dari kekuatan alam matahari, hujan, angin, dan hama, tetapi mereka masih
mempercayai kekuatan adikodrati dibalik semua kekuatan itu. Selanjutnya sebagai
peninggalan sisa masa lalu adalah melakukan tindakan keagamaan dengan berusaha
untuk menambah kekuatan batin agar dapat mempengaruhi kekuatan alam semesta
atau jagat gede.
Usaha yang paling berat
adalah melakukan pati geni. Yaitu tindakan tidak makan, tidak minum dan tidak
melihat sinar apapun selama empat puluh hari empat puluh malam. Untuk menambah
kekuatan batin tersebut menggunakan benda-benda bertuah atau berkekuatan gaib
yang di sebut jimat, yakni berupa keris, tombak, songsong jerne, batu
akik, akar bahar, dan kuku macan. Tindakan keagamaan tersebut adalah sisa-sisa
kepercayaan zaman dinamisme.
Budaya jawa sudah ada
sejak zaman prasejarah, sejak masyarakat jawa itu sendiri ada, dengan budaya
yang bertumpu pada religi animisme-dinamisme. Dasar pemikiran religi animisme-dinamisme yaitu adanya
kepercayaan tentang kekuatan atau energi
yang mendiami benda-benda (keramat) dan adanya roh-roh halus (termasuk arwah
para leluhur) yang menempati alam sekeliling
mereka.
IV.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Masyarakat jawa adalah orang-orang yang hidup kesehariannya menggunakan
bahasa Jawa dengan berbagai dialeknya secara turun temurun. Masyarakat Jawa
adalah mereka yang bertempat tinggal di pulau Jawa.
Animisme adalah pemahaman yang menyatakan bahwa setiap gerakan, kekuatan
dan kejadian di alam ini disebabkan oleh makhluk-makhluk yang ada di
sekitarnya.
Perkataan dinamisme berasal dari kata yang terdapat dalam bahasa Yunani,
yaitu, dunamos dan diinggriskan menjadi dynamic yang umumnya
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kekuatan, kekuasaan atau khasiat
dan dapat juga diterjemahkan dengan daya. Dinamisme disebut juga preanismisme,
yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai kekuatan.
B.
Saran
Demikianlah makalah yang telah penulis susun, semoga bermanfaat, kritik
dan saran yang membangun sangat penulis harapkan agar makalah penulis yang
kedepannya bisa lebih baik. Dan penulis memohon maaf apabila terdapat banyak
kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
SMP Islam Terpadu
At-Tawaazun (2008)
PMDG Putri 3 (2011)
Nama : Kholifatul
Mustaqiyah
NIM : 123411058
Jurusan/Prodi : Pendidikan Bahasa Inggris
Tempat, Tanggal Lahir : Pekalongan, 24 Oktober 1994
Riwayat Pendidikan : TK Aisyah Pangkah, Pekalongan
SD Muhammadiyah, Pekalongan
MTs Tholabuddin, Batang
MA Darul Amanah, Kendal
Alamat : Pangkah, 09/04,
Kec. Karangdadap, Kab. Pekalongan
Phone number : 085 875 416 660
facebook : Kholifatul
Mustaqiyah
Nama : Maulida Rani
Safitri
NIM : 123411067
Jurusan/Prodi : Pendidikan Bahasa Inggris
Tempat, Tanggal Lahir : Batang, 07 November 1994
Riwayat Pendidikan : SD Kalibalik 02, Batang
MTs Nurul Huda Banyuputih, Batang
MA NU 01 Banyuputih, Batang
Alamat : Kalibalik, 01/04,
Kec. Banyuputih, Kab. Batang
Phone number : 085 641 479 047
facebook : Maulida Rani
Safitri
Twitter : @rany_maulida