menu

Senin, 22 Juni 2015

Review Wayang

Review Begawan Cipta Wening

Ada seorang raja yang bernama Niwatakawaca yang tingggal di Ima-imantaka. Sang raja hendak menikahi Dewi Supraba, ia adalah bidadari di Suralaya. Tapi permintaan itu ditolak Hyang Indra, atas penolakan inilah Prabu Niwatakawaca murka dan hendak merusak Kaendran (tempat Betara sang Hyang Indra ) bersamaan dengan ini, Raden Arjuna sedang bertapa di bukit Indrakila yang saat itu bergelar Begawan Mintaraga. Sebenarnya, Hyang Indra khawatir Arjuna yang sedang bertapa, karena Hyang Indra akan meminta bantuan Arjuna untuk melawan Prabu Niwatakawaca. Betara Indra menitipkan para bidadari penggoda agar Arjuna batal bertapa, namun mereka tidak bisa membatalkan tapa arjuna, malah sebaliknya bidadari itu merindukan Arjuna.
Bersamaan dengan Prabu Niwatakawaca ke pertapaan, datang pula raksasa sakti bernama Mamangmurka, ia datang hendak membinasakan Arjuna. Hal ini diketahui oleh Arjuna, seketika Arjuna menyumpahinya degan berkata “tingkah laku raksasa ini sebagai seekor babi hutan”. Seketika Mamang Murka berubah wujud menjadi babi hutan, diikuti oleh Hyang Indra berubah menjadi seorang pendeta bernama Resi Padya yang berkeinginan untuk membunuh babi hutan itu, ia melepaskan anak panah diikuti pula dengan Arjuna dan mengenai tepat di binatang itu.
Masing-masing mengakui bahwa anak panah yang mengenai binatang tersebut adalah anak panahnya.  Dalam selisih paham itu, sebenarnya Hyang Indra senang karena Hyang Indra dapat dengan mudah meminta bantuan Arjuna untuk memusnahkan Prabu Niwatakawaca. Kehendak ini benar terlaksana, Prabu Niwatakawaca berhasil dikalahkan Arjuna.

 Arjuna diangkat menjadi raja di Kaendran. Arjuna bergelar Prabu Kariti. Menurut perhitungan dewa, sehari di alam manusia sama dengan sebulan di Kaendran.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar